Tampilkan postingan dengan label sumber daya alam dan lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumber daya alam dan lingkungan. Tampilkan semua postingan

Sekilas Tentang Pengelolaan Kolaboratif


Dunia dan isinya cukup untuk memenuhi kebutuhan manusia, namun Bumi dan isinya tidak akan pernah cukup untuk memenuhi keserakahan Manusia. (Gandhi)

Filosofi inilah yang kemudian mengantarkan saya untuk berfikir lebih jauh tentang hakikat diciptakan manusia dan lingkungan sebagai kesatuan yang holistik. bahwa alam pada dasarnya diciptakan Tuhan untuk melayani manusia, memberikan semua yang hakikatnya memang dibutuhkan manusia. Namun perubahan memang tidak bisa dihindari. Pola pikir yang semakin berkembang (baca:Materialistik) semakin tajam dan signifikan mempengaruhi perilaku manusia dalam memanfaatkan "produk alam"

Kebutuhan dan Kepentingan manusia bercampur sehingga seringkali terjadi crossover yang saling tumpang tindih dan menyebabkan alam harus menjadi pemuas satu-satunya yang dapat dimanfaatkan untuk hal tersebut. namun permasalahannya sekarang adalah "sumber daya alam terbatas sedangkan keinginan manusia tidak terbatas", yang kemudian menyebabkan terjadinya kepunahan dan kerusakan sumber daya alam.

Melalui Hukum yang dibuat manusia jualah sumber daya alam kemudian dijadikan "hak milik" dan dikelola dengan tangan-tangan manusia yang mengaku berkepentingan atas sumber daya alam tersebut dalam kehidupannya. Namun percaya atau tidak, fakta telah membuktikan bahwa seringkali pengelolaan sumberdaya alam yang dikelola oleh pihak tunggal(apalagi yang berorientasi bisnis) tidak mampu memanfaatkan dan mengelola sumber daya alam tersebut, terutama dalam menjamin aspek sustainablitily. Oleh karena keterbatasan inilah, dewasa ini dikenal suatu konsep yang dinamai sebagai "Pengelolaan Kolaboratif" yang menjadi suatu alternatif dalam pengelolaan sumber daya alam yang melibatkan pihak-pihak yang terlibat langsung dan berkepentingan dalam kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemanfaatkan SDA.

Adanya sinergi kepentingan dan penyatuan visi dari masing-masing pihak menjadi modal utama dalam membangun kelembagaan sosial dan penguatan pengetahuan lokal yang spesifik dan dapat diterapkan dalam basis pengelolaan sumber daya alam
Read More...

Budidaya Perikanan : Masa Depan yang Dijanjikan Melalui Pengelolaan Berkelanjutan

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversitas) terbesar ke-2 di dunia setelah Brazil. Negara maritim berupa kepulauan yang memiliki daratan yang terbentang dari Sabang hingga Merauke sekitar 1,9 km2 dan luas lautan sekitar 5,8 km2 dengan ribuan perairan, seperti sungai, danau, dan rawa; pulau-pulau yang berjumlah sekitar 17.000 dengan garis pantai sepanjang 81.000 km. Hal ini menyebabkan sumber daya perairan di Indonesia sangat melimpah dan beragam, ditambah lagi dengan kondisi iklim tropis menyebabkan hampir 45 % spesies ikan di dunia berada di negara ini.



Akuakultur atau yang lebih awam disebut sebagai budidaya perikanan merupakan subsektor pangan yang pertumbuhannya paling cepat di Indonesia. Statistik mencatat bahwa pertumbuhan subsektor ini sebesar 11 % per tahun dan mampu menyerap 2,5 juta lapangan pekerjaan per tahunnya(DKP). Budidaya perikanan air payau, tawar dan laut indonesia tercatat pada tahun 2007 telah menempati urutan ketiga terbesar setelah Cina dan India dengan produksi 2,7 juta ton per tahun. Sementara itu, China yang memiliki pantai dan sungai yang lebih sedikit daripada Indonesia mampu menghasilkan produksi sebesar 32,7 Juta ton per tahun. Hal ini menurut Dirjen Perikanan Budidaya Departemen Kelautan dan Perikanan terjadi karena belum optimalnya pengelolaan akuakultur di Indonesia. Namun yang harus menjadi perhatian saat ini adalah akuakultur disinyalir mampu menopang perekonomian negara sebagai subsektor yang sangat menjanjikan untuk menjamin ketersediaan pangan di Indonesia. Ledakan penduduk yang sangat dahsyat telah menyebabkan terjadinya krisis pangan yang cukup signifikan sehingga perlu adanya suatu upaya diversifikasi pangan sebagai solusi mengatasi krisis tersebut. Dengan pertumbuhan produksi budidaya ikan yang terus meningkat setiap tahunnya, maka tidak mustahil jika budidaya perikanan menjadi alternatif bagi masa depan pangan di Indonesia (Suyoto, 2009)

Sejauh ini, subsektor budidaya perikanan memang menjanjikan masa depan bagi rakyat indonesia. Tidak hanya karena sumber daya alam yang melimpah ruah, tetapi juga sistem pengelolaan yang terus membaik (Suyoto, 2009). Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa dengan sumber daya perairan yang begitu beragam dan melimpah, budidaya perikanan kelak akan mendominasi ekspor non-migas dan menjadi jaminan masa depan bagi segenap rakyat Indonesia untuk bertahan dari krisis pangan. Terutama dengan semakin meningkatnya permintaan terhadap bahan makanan berprotein tinggi dan permintaan ekspor yang cukup tinggi dari negara-negara maju.

Hal yang demikian bisa saja terjadi jika pengelolaan budidaya perikanan juga memperhatikan konsep sustainability. Telah banyak usaha yang dilakukan pemerintah seperti pengembangan teknologi akuakultur tepat guna, pengembangan sistem usaha akuakultur serta penerapan peraturan dan kebijakan yang mendukung pengembangan akuakultur. Konsep sustainability ini dirasa penting guna menjamin tersedianya sumber daya perairan agar tidak berkurang secara kualitas maupun kuantitas sehingga mampu menjadi solusi jangka panjang yang memadai. Pengelolaan sumber daya yang antroposentris harus mampu bersinergi dengan pemahaman sustainability sehingga diharapkan agar upaya-upaya peningkatan produksi budidaya perikanan mampu terus meningkat. Bercermin dari negeri China yang mampu mengkombinasikan budidaya perikanan dengan kebudayaan mereka sepertinya mampu menjadi acuan bagaiman konsep sustainability ini seharusnya diimplementasikan.

Aspek-aspek lingkungan juga penting sekali untuk diperhatikan, mengingat banyaknya jumlah polusi, degradasi lingkungan, dan pencemaran air yang terjadi mampu mempengaruhi kualitas dan kuantitas sumber daya perairan. DKP menyebutkan bahwa penurunan produksi akuakultur menurun sekitar 12 % di daerah-daerah perikanan yang rawan akan polusi air dan tercemar limbah, terutama limbah B3. Selain itu, kualitas ikan juga menurun dan mempengaruhi permintaan ekspor, akibatnya permintaan ekspor menjadi turun dan mengurangi produktivitas petani ikan. Ini berarti pengelolaan akuakultur harus memperhatikan aspek-aspek lingkungan guna menjaga ”nilai” dari tata kelola yang sustainability atau dengan kata lain pengelolaan berwawasan lingkungan yang ekosentris juga harus diterapkan dalam sebuah kerangka pemikiran yang parsial.

Di sisi lain, guna tercapainya pengeloaan akuakultur yang mampu menopang masa depan dan perekonomian Indonesia, maka kondisi sosial ekonomi petani budidaya juga perlu diperhatikan. Petani budidaya sebagai bagian integral dari akuakultur yang berkelanjutan harus mendapatkan perhatian yang lebih. Selama ini akses dan kontrol petani budidaya masih belum optimal, terutama petani budidaya yang tergolong miskin. Masih banyak petani ikan kesulitan untuk mengakses kredit bank bagi modal usahanya dan kurangnya infrastruktur pemasaran menciptakan jejaring sosial yang tidak mampu mendukung kualitas sumber daya manusia untuk produktivitas yang efektif dan efisien. Oleh karena itu pemberdayaan petani budidaya juga sangat penting guna menuju konsep sustainability yang sesungguhnya agar kehidupan petani, terutama petani miskin dapat menjadi lebih baik sehingga mereka memiliki kemampuan untuk meningkatkan produktivitas yang nantinya akan sangat berpengaruh terdapap pertumbuhan akuakultur
Berdasarkan kenyataan itu semua, statistik secara lugas memang menggambarkan potensi akuakultur yang sangat menjanjikan sebagai pondasi ketahanan pangan dimasa depan. Namun sekali lagi, konsep sustainability juga penting mengingat perlunya pengelolaan sumber daya perairan yang lebih terintegrasi guna menjaga kualitas dan kuantitas budidaya perikanan agar sesuai dengan harapan.
Read More...

Abad 21 Tanpa Pemikiran Marx : Kapitalisme & Lingkungan

Jikalau dulu Marx tidak habis-habisan mengkritik kaum kapitalis yang mengeksploitasi kaum buruh, mungkin budaya kapitalis akan tumbuh subur di kebanyakan negara dunia ketiga ketika era modernisasi ini menghunus pemikiran-pemikiran kritis yang sadar akan lingkungan.



Tidak ada maksud sama sekali untuk menyamakan orang yang peduli dengan lingkungan sebagai pengikut Marx. Tetapi hal yang menarik yang perlu kita lihat adalah suatu fenomena yang tanpa kita sadari secara langsung maupun tidak, kapitalisme telah menjadi bibit-bibit kecil yang mengantarkan pemikiran manusia yang menjelma menjadi perilaku perusak. Perilaku orang-orang berkuasa yang haus akan kekayaan dan kekuasaan akan terus mempertahankan apa yang dia punya dengan cara apapun. Perilaku-perilaku seperti inilah yang menyebabkan terjadinya ekspolitasi besar-besaran terhadap sumber daya alam yang merupakan faktor produksi secara ekonomi dan kemudian menyebabkan terjadinya kerusakan pada lingkungan. Pemikiran-pemikiran kritis kemudian muncul sebagai usaha untuk menyelamatkan lingkungan.

Tahun 1992 konferensi bumi untuk pertama kali digelar di Rio De Janiero untuk memunculkan kesadaran-kesadaran kritis terhadap lingkungan. Tidak ubahnya seperti Marx muda yang kritis akan perilaku-perilaku keegoisan ekonomi kaum kapitalis yang menurutnya telah merampas kebebasan kaum buruh. ”Kerusakan lingkungan adalah dampak laten dari kapitalisme”, seperti itulah pernyataan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana ekonomi telah merubah manusia menjadi makhluk biadab, serakah dan selalu berusaha memperoleh kekayaan dan kekuasaan, tidak lebih manusiawi daripada perilaku kaum borjuis yang merenggut hak asasi kaum buruh. Zaman Marx mungkin telah berakhir, tapi pemikirannya untuk menentang kapitalisme akan selalu ada. Perlu kita sadari, bahwa kapitalismelah yang telah menghancurkan alam ini. Polusi, degradasi lingkungan, Emisi dan berbagai jenis manifestasi kerusakan lingkungan lainnya adalah ulah dari kaum kapitalis. Oleh karena itu, pemikiran-pemikiran kritis yang baru diharapkan untuk menghancurkan kapitalisme yang telah menghancurkan lingkungan.

Jikalau sekarang Marx masih hidup, mungkin pemikirannya akan mengantarkan suatu pernyataan seperti ini: Wahai kaum pencinta lingkungan. Bersatulah!!!!!!
Read More...

SUKU BADUY & AIR : ROMANTISME KEARIFAN LOKAL SEPANJANG MASA

Fenomena krisis air yang melanda kehidupan manusia diseluruh dunia tidak bisa dipungkiri lagi. Seiring berjalannya waktu, attensi para pemerhati masalah air mulai terkonsenstrasi untuk memecahkan masalah tersebut, sebab manusia dibelahan dunia manapun pasti setuju bahwa air merupakan unsur paling penting bagi kehidupan. tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk keperluan rumah tangga, industri, pertanian, transportasi dan lain-lain. Fakta yang cukup mengejutkan telah memberikan gambaran yang sangat signifikan bahwa dalam 10 tahun terakhir, lebih dari 208 negara di dunia telah mengalami fenomena krisis air, dan diperkirakan 56 negara lagi juga akan menyusul mengalami krisis serupa pada tahun 2025. Laporan World Commission On Water menyebutkan bahwa dalam 20 tahun ini, air yang dibutuhkan untuk konsumsi dunia, baik air minum maupun air untuk mengairi tanaman, sudah tak cukup lagi. Hanya 2,5 persen saja air di dunia ini yang tidak mengandung garam dan dua pertiga dari jumlah itu terkubur dalam gunung es dan glasier. Di Indonesia sendiri yang menyimpan 6% dari persediaan air dunia, tidak luput dari fenomena ini, sebab data statistik menggambarkan bahwa persediaan air – baik kualitas maupun kuantitas- menurun seiring meningkatnya pertambahan penduduk, industrialisasi dan tata kelola air yang kurang baik dan bijaksana akhirnya menyebabkan air terdegradasi dan berkurangnnya stock

Baduy & nilai-nilai


Dibalik semua itu, tepatnya di pedalaman Gunung Kendeng. Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak, Banten. Terdapat suku tradisional yang eksistensinya tidak pernah lekang oleh waktu dalam menjaga nilai-nilai adat dan lingkungan disekitar mereka, yaitu Suku Baduy. Suku yang terkenal dengan leuit, pakaian adat yang khas, dan kepercayaan sunda wiwitan mereka. Sejak ratusan tahun lalu, meski tanpa mempelajari konsep pembangunan berkelanjutan. Suku Baduy yang amat arif dalam mengelola sumber daya alam telah mengimplementasikan kepercayaan mereka kedalam sebuah realitas sistem pengelolaan sumber daya alam yang amat efektif dan efisien. Tidak hanya dalam pengelolaan hutan yang sangat cerdas, tetapi hampir semua aspek yang terkait dengan sumber daya alam dan pendistribusiannya juga sangat luar biasa, sehingga masyarakat baduy tidak pernah kekurangan pangan, stok kayu, maupun kebutuhan dari hasil sumber daya lain. Mereka sadar bahwa alam adalah titipan dari yang maha kuasa, mereka belajar tenteng alam, hidup berdampingan bersama alam dan hidup tanpa merusak alam selama ratusan tahun lamanya.

Kearifan lokal ini juga tercermin dalam pengelolaan sungai yang merupakan sumber air bersih bagi konsumsi rumah tangga maupun pertanian suku Baduy. Aliran sungai yang melintasi perkampungan tanah adat suku Baduy amat jernih, tidak ada sampah sama sekali. Padahal masyarakat suku baduy menggunakan sungai dalam kebutuhan sehari-hari untuk keperluan mencuci, minum, mandi dan lain-lain. Namun yang paling menarik dari pengelolaan sumber daya air ini adalah adanya kelembagaan sosial yang memberikan pedoman berperilaku bagi masyarakat lokal maupun pendatang untuk mematuhi nilai-nilai adat. Masyarakat baduy yang tidak memiliki kamar mandi maupun WC dirumah panggungnya, memiliki aturan untuk tidak membuang sampah, menggunakan sabun, deterjen dan bahan-bahan kimia lain yang dapat mengotori sungai. ini merupakan alasan paling logis untuk menjawab mengapa sungai di tanah baduy masih tetap asri dan alami hingga saat ini. Selain itu pembagian area-area dalam pemanfaatan sungai juga merupakan sebuah konsep dalam memperhatikan daya pulih air. Sebab, meski sungai di Baduy panjang dan luas, setiap kampung telah memiliki area-area khusus dalam pemanfaatan sungai . Area sungai untuk mandi, mencuci, buang air dan konsumsi memiliki areanya masing-masing sehingga masyarakat memperoleh air yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan..
Masyarakat Baduy sadar bahwa sungai merupakan pemberian tuhan yang paling berharga sebab sungai merupakan sumber air yang sampai saat ini menjaga kelangsungan hidup mereka. Perjalanan panjang suku baduy yang hidup berdampingan dengan alam selama ratusan tahun telah menjadi bukti konkret tercapainya suatu keberhasilan pembangunan berkelanjutan dalam arti sebenarnya, sehingga fenomena krisis air mungkin tidak berlaku bagi suku yang menghargai alam ini. realitas ini adalah sebuah pencapaian yang sangat luar biasa tentang pembelajaran umat manusia dalam tata kelola sumber daya air yang efektif dan efisien.
Lantas, apakah kita yang menobatkan diri kita sebagai manusia modern telah mampu belajar untuk menjaga alam dan menghargai pemberian tuhan sebagai sesuatu yang harus dijaga kelestariannya untuk mengatasi segala krisis yang melanda umat manusia?,
Read More...
    Merah Putih Clothing & Design

Pamplet Bulan April

Pamplet Bulan April

Kampus

Institut Pertanian Bogor